Rabu, 09 Oktober 2013

Alasan Hitler Tidak Membantai Habis Yahudi


Ketajaman analisa hitler tentang Yahudi menjadi sesuatu yang patut dijadikan pelajaran. Ucapannya yang bermakna saat itu, terbuka dikemudian hari. Walaupun benar atau tidaknya ucapan itu masih menjadi perdebatan tapi jelas ungkapan itu menggambarkan ketajaman analisanya....

Perhatikan sebuah ungkapan yang konon dilontarkan pentolan Nazi, Adolf Hitler berikut. "Ich konnte all die Juden in dieser Welt zu zerstoren, aber ich lasse ein wenig drehte-on, so knnen sie herausfinden, warum ich sie getotet"

"Bisa saja saya musnahkan semua Yahudi di dunia ini, tapi saya sisakan sedikit yang hidup, agar kamu nantinya dapat mengetahui mengapa saya membunuh mereka."
Dengan ucapannya itu seolah-olah menggambarkan betapa berbahaya dan dahsyatnya bangsa yang ditakdirkan paling pandai dimuka bumi itu.

Ungkapan itu bukan hanya ramai diperbincangkan di berbagai jejaring sosial tetapi sudah menjadi bahan diskusi menarik yang patut diacungi jempol. Konon, ucapan yang dilontarkannya itulah yang dijadikan acuan bagi tentara Nazi untuk melakukan "Pembersihan Total" kaum Yahudi di Eropa. Inilah yang belum dapat ditangkap oleh para pemimpin dunia saat ini.

Namun terlepas benar atau tidaknya ungkapan itu, setidaknya kini semua manusia dapat melihat dengan jelas bagaimana aksi brutal bangsa Yahudi. Mulai dari pencaplokan tanah Palestina sejak tahun 1965 hingga pembantaian penduduk sipil di Jalur Gaza dan sekitarnya.

Kebrutalannya yang teranyar dipertontonkan oleh bangsa Israel saat menyerang konvoi kapal relawan kemanusiaan yang akan masuk ke Jalur Gaza pada 31 Mei silam.

Israel merupakan Negara yang paling banyak mengabaikan resolusi DK PBB. Jumlah resolusi yang diabaikan oleh Israel mencapai 69 buah. Bayangkan seandainya satu Negara Islam mengabaikan 1 resolusi PBB, apa yang akan dilakukan oleh Amerika?

Anda bahkan sulit untuk percaya jika Amerika mengalokasikan 5 milyar US$ dari penghasilan pajaknya setiap tahunnya untuk menyumbang Israel? bantuan perang tambahan sebesar 4 milyar US$ dari Amerika yang terdiri dari pesawat tempur F 16, Apache dan Blackhawk.

Selasa, 08 Oktober 2013

Penjajahan Bangsa Asing di Indonesia

A. Penjajahan Bangsa Portugis 

1. Malaka

Portugis pertama kali datang ke Malaka pada tahun 1509, di bawah pimpinan Alfonso de Albuequerque. Pada masa itu, Malaka merupakan pusat perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara yang banyak di kunjungi kapal-kapal dari berbagai negara.
Malaka kemudian berhasil dikuasai oleh Portugis pada tahun 1512, sekaligus merupakan awal dari penjajahan Portugis di Nusantara. Tujuan utama penjajahan bangsa Portugis adalah mencari daerah penghasil rempah-rempah, yaitu Maluku

2. Maluku

Untuk pertama kalinya, Portugis pertama kali datang ke Maluku pada tahun 1512, dibawah pimpinan De Abreu. Kedatangan bangsa Portugis disambut baik oleh Raja Ternate, dengan harapan bangsa Portugis dapat membantu Kerajaan Ternate, yang saat itu sedang berperang dengan Kerajaan Tidore. Kesempatan ini digunakan Portugis untuk menerapkan sistem monopoli terhadap rempah-rempah, yang mengakibatkan petani cengkeh menderita karena harus menjual rempah-rempahnya ke bangsa Portugis dengan harga yang sangat murah.
Kemudian timbul perlawanan terhadap bangsa Portugis, setelah peristiwa pembunuhan terhadap Sultan Harun, penguasa Kerajaan Ternate. Akhirnya, pada tahun 1575, Portugis berhasil diusir dari Maluku di bawah pimpinan Sultan Baabullah.

3. Banten

Akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, para pedagang asing tidak mau lagi berdagang di Malaka. Mereka memilih pindah ke Banten karena letaknya yang strategis.
Kedatangan Portugis yang bermaksud untuk menguasai Banten, berhasil ditusir oleh tentara Demak di bawah pimpinan Fatahillah.

B. Penjajahan Bangsa Belanda (VOC)

Belanda mendarat pertama kali di Banten pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Banten dipilih oleh Belanda karena merupakan pelabuhan terbesar di Jawa Barat dan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah.
Pada awalnya, kedatangan Bangsa Belanda disambut dengan baik oleh para penguasa Banten. Namun, karena Belanda ingin menerapkan sistem monopoli, rakyat Banten mengusir mereka keluar dari Banten.

Pada tahun 1598, untuk kedua kalinya Belanda mendarat di Banten, di bawah pimpinan Van Neck. Pada tahun 1602, Belanda mendirikan Persatuan Dagang Belanda, yang disebut VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie).
Pada awal abad ke-18, VOC mengalami kemunduran dan tidak mampu membayar utangnya yang mencapai 136,7 juta gulden. Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC dibubarkan oleh pemerintah Belanda.

C. Penjajahan Bangsa Inggris

Hampir bersamaan dengan pembubaran VOC, Negeri Belanda dikuasai oleh pasukan Perancis pimpinan Napoleon Bonaparte. Kemudian Hermann W. Daendels diangkat sebagai gubernur jenderal di Batavia untuk mempertahankan Indonesia dari serangan Inggris. Namun pada tahun 1811, Inggris berhasil menguasai Indonesia dan mengangkat Sir Thomas Raffles sebagai Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Nusantara.

D. Kembalinya Kekuasaan Belanda di Nusantara

Pada tahun 1816, Belanda kembali berkuasa di Nusantara. Kedatangan Belanda untuk kedua kalinya ini mendapatkan perlawanan dari rakyta Indonesia. Selama melakukan penjajahan, pemerintah Belanda menerapkan politik Divide At Impera (Pecah Belah dan Jajahlah) serta sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsels).
Sistem tanam paksa diterapkan oleh Van den Bosch. Akibatnya, rakyat Indonesia menjadi semakin menderita. Salah satu orang Belanda yang menentang sitem tanam paksa adalah Douwes Dekker (Multatuli), yang menulis buku yang berjudul Max Havelaar.

Jumat, 04 Oktober 2013

Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap Imperialisme Portugis

1. Perlawanana Kerajaan Demak

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 mengakibatkan kegiatan perdagangan di pelabuhan Malaka menjadi tenganggu. Pedagang Islam banyak yang merasa dirugikan. Kedudukan kerajaan-kerajaan Islam yang mempunyai kepentingan perdagangan di Malaka merasa terancam, termasuk Demak.

Demak kemudian berinisiatif menyerang Portugis di Malaka. Serangan Kerajaan Demak terhadap kedudukan portugis di Malaka terjadi pada tahun 1512 dan 1513. Penyerangan tersebut dipimpin oleh Adipati Unus yang memimpin sebuah pasukan yang terdiri atas 100 kapal laut dan lebih dari 10.000 prajurit. Akan tetapi, mereka berhasil dipukul mundur oleh Portugis

2. Perlawanan Kerajaan Aceh

Sejak dikuasainya Malaka oleh Portugis, jalur perdagangan berpindah ke pelabuhan yang lebih aman dan menguntungkan, yaitu Pasai dan Aceh. Kedua kerajaan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai. Kedudukan Aceh sebagai pelabuhan dagang di bagian barat Sumatera di anggap membahayakan Potugis, sementara Aceh menganggap kegiatan dagang Portugis mengancam kedudukan nya sebagai pusat perdagangan Islam. Sikap saling curiga antara keduanya kemudian mendorong Aceh melakukan serangan terhadap Portugis. Dalam hal ini mereka bersekutu dengan kerajaan Johor, Adipati Unus, dan Ratu Kalinyamat.

Serangan Kerajaan Aceh dimulai pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528) dan puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada tahun 1566, Aceh mendapat bantuan 500 tenaga ahli senjata api dari Turki dan beberapa pucuk meriam. Bantuan Turki ini menjadikan kekuatan Aceh dapat menandingi kekuatan Portugis. Dengan demikian, Aceh tidak dapat dikuasai oleh Portugis

3. Kerajaan Ternate dan Tidore

Kedatangan Portugis di Maluku bersamaan dengan suasana persaingan antara Ternate dan Tidore. Pertikaian di antara keduanya justru melemahkan posisi kerajaan-kerajaan Maluku tersebut, sehingga Portugis berhasil menanamkan pengaruhnya di daerah tersebut dan berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah. Akibatnya, baik pedagang Ternate maupun Tidore akhirnya kehilangan kebebasan untuk berdagang dengan pihak lain yang memberi keuntungan pada mereka. Kemudian, timbul pertikaian antara kerajaan-kerajaan tersebut dengan Portugis.
Pada tahun 1533, rakyat Ternate di bawah pimpinan Dajalo berhasil membakar benteng Portugis. Perlawanan terhadap Portugis juga dilakukan oleh rakyat Tidore, Bacan, dan lain-lain. Pada awalnya, rakyat Maluku meraih kemajuan besar namun kemudian berbalik terdesak setelah Portugis mendapat bantuan dari Malaka. Armada Portugis di bawah pimpinan Antonio Galvao akhirnya berhasil memaksa rakyat Maluku untuk berdamai dan Portugis tetap meonopoli perdagangan di Maluku

Akan tetapi tindakan pemerasan yang sering dilakukan para pegaai Portugis membuat rakyat Maluku kembali mengangkat senjata. Dibawah pimpinan Sultan Khairun, rakyat Ternate mulai menyerang kembali orang Portugis. Akan tetapi melalui tipu muslihat, orang Portugis berhasil membunuh Sultan Khairun dalam suatu perundingan. Meskipun demikian, perlawanan rakyat Ternate terus berlanjut dibawah pimpinan Sultan Baabulla pada tanggal 28 Desember 1577. Sultan Baabulla akhirnya berhasil mengusir Portugis dari negerinya.